07 December 2013

Kisah Tiga Santri Mengunjungi New York

Tiga orang santri yang bersahabat karib, mengunjungi salah satu kota paling masyhur di dunia. New York. Kota yang menyambut mereka dengan segala kemegahan dan riuh-rendahnya. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel terbaik dan mendapatkan kamar di lantai enam puluh sebuah gedung pencakar langit yang tingginya “Masya Alloh...!”

Kebijakan hotel sangat tegas. Setiap tamu disarankan pulang sebelum tengah malam, karena lift dimatikan pada pukul 24.00. Itulah pemberitahuan yang mereka terima persis sebelum ‘hang out’. Mereka berniat menelusuri keindahan kota besar yang sebelumnya hanya ada dalam angan-angan.

Acara jalan-jalan ternyata sangat mengasyikkan. Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa oleh para santri yang mendadak sontak jatuh cinta pada keindahan kota. Mereka mengunjungi berbagai tempat hingga lewat tengah malam. Tiba di hotel, mereka harus menerima kenyataan, lift sudah dimatikan.

“Tak apa, Akhi, kita lewat tangga yang tersedia saja,” kata salah satunya menenangkan, “pada dua puluh lantai pertama biar kuceritakan kisah-kisah lucu dan jenaka!” Kedua sahabatnya tersenyum tanda setuju. “Betul, Akhi, kita ikhlaskan saja,” timpal sahabatnya, “dan di dua puluh lantai berikutnya akan kuceritakan kisah-kisah hikmah.” Kedua karibnya mengangguk-angguk. “Kalau begitu, di dua puluh lantai terakhir, akan kuceritakan kisah-kisah sedih dan muhasabah, Saudara-saudaraku….” santri terakhir mengambil bagiannya.

Mereka memulai dua puluh lantai pertama pendakian dengan gembira. Kisah-kisah lucu menjadi penghibur yang memancing tawa, mengurangi beban akibat mulai membanjirnya keringat dan rasa pegal yang melanda. Di dua puluh lantai berikutnya mereka mendapatkan banyak hal dan hikmah kehidupan. Susah payah, akhirnya mereka akan mulai menapaki dua puluh lantai terakhir.

“Akan kumulai… hhh… kisah sedihku, dengan...,” kata santri yang mengambil giliran terakhir bercerita, “aku lupa..., kunci kamar kita tadi ketinggalan di mobil….”

Dua puluh tahun pertama kehidupan, kita lalui dengan tawa dan ceria, menikmati semua yang ada di luar sana. Dua puluh tahun berikutnya kita harus bijak mengambil hikmah kehidupan, kala berkutat dengan kerja, rumah tangga, dan anak-anak. Dua puluh tahun berikutnya lagi, kita mulai menemukan uban dan berpikir tentang “akhir dari semua ini”. Alangkah lebih baiknya, jika kita memulai perjalanan dengan mengingat bahwa semua ini akan berakhir, dan tidak menangguhkan ketaatan kepada-Nya di masa-masa akhir, ketika sebagian dari kita tidak punya energi untuk melakukannya.

Tulisan ini diterjemahkan bebas oleh @yoezka, dari laman islamcan.com
read more...

13 February 2013

Foto Yang Selalu Membuat KH. Arifin Ilham Tersenyum

Siapa yang tak kenal KH. Muhammad Arifin Ilham? Ustadz terkenal yang memiliki banyak sahabat tersebut beberapa waktu yang lalu membagi sebuah foto unik lewat fanpage-nya di facebook. Foto yang dilengkapi keterangan berupa cerita singkat tersebut tidak hanya lucu dan mengundang senyum, bahkan tawa, tetapi juga sarat dengan pesan moral tentang persahabatan.

Mungkin sahabat Humor Santri sudah melihatnya sendiri di fp beliau, tetapi tak ada salahnya dibagikan ulang disini. Semoga membawa manfaat dan hikmah bagi kita semua. Berikut ini foto dan kisahnya:



Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. SubhanAllah sahabatku, aku selalu senyum ingat kisah foto ini. Bersama sahabat sholehku Bang Haji Wawan kami berda'wah di kampung Garut. Kami sempatkan seusai da'wah oleh raga sampan kecil. Aku & beliau sama sama ngga bisa menggunakannya tetapi kami pede saja, "masa cuma mendayung doang ngga bisa" fikir kami.

Astagfirullah ternyata baru coba menaikinya sudah buyar. Bang haji Wawan yang duluan menaikinya oleng, cepat kutahan dengan dayung agar seimbang. Kurang lebih 5 menit pertahananku tidak berhasil, akhirnya byuuuuur tubuh beliau yang gemuk itu jatuh ke danau kecil itu. Alhamdulillahnya beliau sangat mahir berenang.

Tanpa kami sadari kawan kawan kami tercinta menyaksikan kami. Cepret cepret cepret, kamera sahabat Meldy merekamnya... jadilah kenangan indah. Setiap kami melihat foto ini kami selalu senyum bersama. Aku sangat sayang beliau & para sahabatku krn Allah. Juga kalian sahabat FBku.

Sungguh diantara kebahagiaan hidup ini adalah "ijtamaa alaihi wa tafarroqo alaihi" bertemu krn Alllah, berpisah krn Allah krn SALING CINTA krn ALLAH.

"Maafkan Arifin ya Bang Haji..."

Demikian kisah foto yang selalu membuat KH. Muhammad Arifin Ilham tersenyum. Melihat fotonya saja kita ikut tersenyum, tetapi lebih dari itu, taushiyah beliau memberi makna yang lebih dalam dan penuh hikmah.

sumber foto: fanpage KH. Muhammad Arifin Ilham
read more...

24 January 2013

Tahukah Kalian Apa Yang Akan Kukatakan?

Mullah Nasruddin diundang untuk mengisi sebuah ceramah di mesjid. Berkumpullah orang banyak untuk mendengarkannya. Tapi sayang, sang mullah bisa melihatnya, mereka tampak kurang antusias untuk mendengarkan tausiahnya.

Lantas Nasruddin berkata, "Hadirin, tahukah kalian apa yang akan kukatakan?"

Sontak mereka menjawab, "Tidaaakk..."

"Hmmm, aku tidak suka memberi ceramah pada orang-orang yang samasekali tidak tahu apa yang akan kukatakan!" kata Nasruddin. Ia pun segera berlalu meninggalkan orang-orang yang bengong.

Mereka penasaran dan mengundangnya kembali minggu depannya.

"Hadirin," sang mullah melihat orang-orang yang penasaran menunggunya berceramah, "Kalian tahu apa yang akan kukatakan?"

Hadirin merasa sudah tahu apa yang diharapkan Nasruddin. Serempak mereka menjawab, "Yaaa...!"

Nasruddin tersenyum lega, dan berkata, "Nah... karena kalian sudah tahu apa yang akan kukatakan, aku tak akan mengambil waktu kalian lebih lama lagi dengan berbicara disini..."

Sang mullah berlalu meninggalkan orang-orang yang terheran-heran. Mereka kemudian berunding dan sepakat untuk kembali mengundang Nasruddin minggu depannya.

Mullah Nasruddin datang lagi sepekan kemudian, naik mimbar dan mulai membuka ceramahnya.

Seperti biasa ia bertanya, "Hadirin, tahukan kalian apa yang akan kukatakan?"

Dengan cerdiknya separuh hadirin mengatakan "Yaaaa" dan separuhnya lagi menjawab "Tidaakkk..."

Maka Mullah Nasruddin pun akhirnya melanjutkan ceramahnya.

"Baiklah," kata sang mullah, "Kulihat sebagian dari kalian sudah tahu apa yang akan kukatakan, dan sebagian lain belum. Maka... silakan untuk yang sudah tahu memberitahu yang belum tahu..."

Ia pun berlalu dengan tenang...

sumber: islamcan.com
read more...